Day 6: Five ways to win your heart

Oh my.. this is my favorite topic. Hahaha

1. Manners
Because manners never fails. Manners will take you far.
Ada quote yang bagus tentang manners:
“If they respect you, respect them. If they disrespect you, still respect them. Do not allow the actions of others to decrease your good manners, because you represent yourself. Not others”

Dan lelaki dengan manners yang bagus itu.. membutakan hatiku lah pokoknya. Hahaha.. Tau etika, tau sopan santun, ga ngomong sembarangan. Integrity is everything. Manners shows who you really are.

2. Same sense of humor as mine. Because my sense of humor is kinda weird. Hahahhaa.. ga banyak yang bisa satu frekuensi sama gua sih sebenernya.. So, if i laugh at your jokes, then we’re good. If you laugh at my jokes, then even better..

3. Open minded people. Because we look up at the same stars and see such different things. Hidup ini kan katanya proses belajar yang ga pernah habis. Jadi sangat menyenangkan kalau ketemu sama orang yang berpikiran terbuka, ga menghakimi, ga kaku sama pola pikir yang dia pegang. Gua sangat mengagumi orang yang punya prinsip hidup yang kuat, tapi ya kalau ada orang yg beda prinsipnya sama dia, ya udahlah ya.. ga usah ribet ngatur2 prinsip hidup orang lain. Learn new things, learn about people, learn about your friends, your kids, your parents, even your enemy.. i think it takes an open mind to be able to learn those things. So, yeah, open minded people always wins my heart..

4. Someone to have conversation with. Not just talking, but conversation. Silly conversation to meaningfull conversation. Someone who really listen. Someone who let me get to know him better and also taking time to know me better. Percuma kalau kece abis tapi pas diajak ngobrol ga nyambung.. iya kan?

5. Smells good. Dress well. Taking time to take care of himself. Like, in any way.. in health, the way he dress, the way he eats.. Ga perlu lah direwelin ini itu, tapi dia sadar diri sendiri aja kalau taking care of self sama pentingnya dengan taking care of your spouse.

End of discussion.

Day 5: List 5 places you want to visit

Sebenernya traveling itu bukan kebiasaan gua. Bukan hobi tapi ya gua sebenernya suka juga ngunjungin tempat-tempat baru. Entah kenapa, kayaknya keluarga gua dulu itu jarang banget pergi traveling. Bisalah dihitung dengan 1 tangan berapa kali kami pergi sekeluarga ke luar kota. Yang paling membekas di ingatan gua, kami pergi ke Bali. Pas gua masih SD kayaknya.. lupa kelas brp. Kadang kalau lihat foto2nya, samar2 ingat juga. Tapi ya ga terlalu ingat. Hhahaha..

Setelah punya anak, gua selalu membayangkan (dan mendoakan) agar anak2 gua kelak bisa pergi ke tempat2 yang jauh dari rumah agar mereka bisa lihat kehidupan di tempat lain. Bisa punya pengetahuan yang luas. Bisa melihat dunia.

Tapi buat gua pribadi, ini 5 tempat yang pengen gua kunjungi:
1. Jepang. Kota manapun di Jepang. Karena, Jepang itu udah favorit gua dari jaman SMP. Lihat kehidupan di Jepang dari serial dramanya, interior rumahnya, kebudayaannya, lagu2nya yang meski gua ga ngerti artinya tapi nadanya bikin hati adem. Hahhaha..
Cowok-cowoknya, gaya pakaiannya. Semuanyaaaaa.. Jepang kusuka deh.

Abis itu, sempat juga baca cerita kehidupan di Jepang dari link ini:

10 Surprising Things About Parenting in Japan

Makin kucinta…

2. Lombok. Karena Bali terlalu mainstream.

3. Solo, gara2 pernah baca artikel ini:

10 Kota dengan Biaya Hidup Termurah di Indonesia

Trus ngebayangin enak kali ya pindah ke sana. Hahhaha.. gua tuh sampe searching daftar sekolah SD buat si Dylan lho.

4. Yunani, gara2 film “The sisterhood of the traveling pants”. Trus kalau lihat foto2nya disini:

25 Gorgeous Pictures Of Greece That Will Take Your Breath Away

Bikin mupeng.. huhuhuhu

5. Huacachina, gara-gara lihat di sini:
http://www.dailymail.co.uk/travel/travel_news/article-2966798/The-mystical-oasis-town-exists-middle-barren-desert.html

So that’s day 5, everybody. Let’s see if i can make it to 30 days 😀

Day 4: Write about someone who inspires you.

one person? Siapa ya..

Hm, kayaknya yang paling menginspirasi gua itu adalah nyokap gua sendiri. I dont really like her sih sebenernya. Banyak pemikiran dia yang justru sangat bertentangan sama gua. Prinsip hidupnya, cara dia menjalankan hidupnya, cara dia melihat kehidupan. Banyaklah..

Tapi justru itu yang menginspirasi gua untuk jadi orang yang lebih baik dari dia, menjalankan kehidupan dengan cara gua sendiri, menunjukkan pada dia bahwa gua bisa.

Katanya, hubungan ibu dan anak perempuannya memang banyak lika liku. Hahaha.. Entah kenapa ya. Tapi kalau kalian punya hubungan yang harmonis dengan ibu kalian, well, good for you. You are blessed.

Cuman yaaa, meskipun begitu gua tetap respect sama nyokap (just because she is my mother and she is elder). So yeah, i respect her. But it doesnt mean that i adore her. Itu dua hal yang berbeda.

Semua konflik gua dengan nyokap, semua hal2 yang gua ga suka dari dia, semua hal2 yang gua jalanin dengan dia, semua itu sebenernya jadi kayak cambuk buat gua untuk terus berjuang demi apa yang gua impikan.

Tapi! Tapi! yokap gua ga 100% jelek sih, sifatnya ada juga yang bisa jadi contoh baik. Ga semuanya jelek. Gua cuman ga cocok aja, bukan apa2.. Hahahha kenapa gua jadi terdengar membela diri sih ya?

Oh well, balik lagi kalau ngomongin inspirasi ya.. Salah satu yang gua belajar dari nyokap adalah nyokap gua itu pekerja keras. Gua belajar dari dia bahwa jadi orang itu ga boleh malas. Harus bisa kerja. Kalau kerja itu harus bener. Jangan kerja bener hanya karena dimandorin. Tapi sesimpel bahwa cara kita kerja itu menunjukkan siapa kita. Kalau kerja ga bener, cepat atau lambat akan ketahuan dan kita sendiri yang susah.

Nyokap gua itu masih kolot. Jadi bagi dia yang namanya ‘punya kerja’ = kerja kantoran. Jadi ketika kuliah gua bilang gua mau kuliah di seni rupa, she simply shake her head and said, “no way. mau kerja apa kamu kalau jadi seniman”. Ini salah satu yang pada akhirnya jauh dalam hati, gua menyesali kenapa gua nurut. Hahaha..

jadi ya, gitulah. Beliau inspirasiku. Meskipun sering berantem dan banyak konflik. Entahlah. Haha.. tar gua malah curhat.. wkwkwkw..

Day 3: What are your top three pet peeves?

1. Arrogance.
Eghh.. rasanya pengen  gua jitak kepalanya kalau ngadepin sama orang kayak gini. Ngomongnya tinggi, merasa paling bener, merasa paling oke. Biasanya susah nerima kritik/saran. It takes alot of energy dealing with these kinds of people.
2. Crumbs.
Those little things drives me crazy. Cookies, play dough, crackers, pieces of rice, anything.. Apalagi kalau nasi lengket di telapak kaki.. trus remahan ini itu dimana2, di lantai, di sofa, di kasur…
3. Passive Agresif people
Ini juga parah sih. Agak susah jelasin kayak apa passive agresif itu, tapi kalau penjelasan dari link disini: https://en.wikipedia.org/wiki/Passive-aggressive_behavior
ternyata bisa juga disebabkan oleh masa kecilnya dimana dia ga bisa dengan bebas mengekspresikan perasaannya (terutama perasaan negatif).

This is why, i always always always remind myself to listen and notice my kids emotion. Penyaluran emosi itu sungguh penting. Manajemen emosi juga sangat membantu seseorang untuk mengontrol emosinya. Sehingga emosi negatif ga jadi destruktif. Yang parah itu, bisa merusak ke dalam diri sendiri. Trus imbasnya ya ke hubungan dia dengan orang sekitarnya yang sayang sama dia. Nah, gua dealing sama orang kayak gini tuh agak kurang sabar.. hahahaha…
“These traits include making one’s own misery, the inability to analyze problems, blaming others, turning bad feelings into angry ones, attacking people, lacking empathy, using anger to gain power, confusing anger with self-esteem, and indulging in negative self-talk”

Sebenernya pet peeves gua banyak. Hahahahaha tapi kayaknya kalau di-list top three nya sih itu.

Day 2: Write something that someone told you about yourself that you never forget

First of all, tadi sebenernya gua udah nulis buat posting hari kedua. Tapi apa daya, entah kenapa draft nya hilang -__-

Jadi ini nulis ulang. Jadi ga seru. .hahahahaa

So, anyway..
Someone told me long ago that i am a nice person. A person like me should be put in a museum because it’s rare .

I actually find it really funny. Because being nice itu bukannya udah seharusnya ya? But they said, i’m too nice. I’m not supposed to be too nice. Because people would missunderstood or it’d make people taking advantage of me.

oh well, iya sih..

Tapi sesungguhnya jadi orang baik (banget) itu salah satu senjata gua juga.. Hhahaha..karena gua tau gua ga punya tampang. Wkwkwkw.. iya, dangkal memang. Tapi itu pemikiran gua jaman gua masih labil. Kalau sekarang kayaknya gua udah ga segitunya. Enak aje.. hahaha

Does it work? Being nice? Well, at least it makes me feel peace. Like, i feel I’ve done my part (as human). So if people taking advantage of me, then it’s their fault. Lagian selama gua tidak merasa dirugikan atau jadi beban di gua nya ya gua mah masih oke oke ajalah.

Pernah ga gua merasa dimanfaatkan? oh well, iya lah. Pernah. Sama temen sendiri juga. Tapi dulu itu gua masih lugu.. hahaha jadi gua ga terlalu gimana meskipun gua merasa BT.  Sekarang orang itu juga kayaknya masih ada sih sekali dua kali manfaatin gua. Tapi gua temenan sama dia udah lama banget.. ada kali ampir 20 thn gua temenan ama dia. Dan dia lg ada masalah juga.. Cuman gua tau ceritanya ga komplit. She asked me for help (financial problem), dan gua mau ga bantu tapi gua kasian. Hahahha.. I’ve known her and her whole family juga sih. Mama nya gua kenal baik. Jadi ya udahlah, i’m just gonna pretend i dont know that she lied. wkwkwk malah jadi curhat.

Intinya, gua baik. Itu aja kok ribet. Wkwkwkwkw..

Day 1: List 10 things that make me really happy

Karena gua orangnya ga bisa kalau dibebasin (halah!) maka gua combine challenge #JuliNgeblog dengan 30 day challenge yang gua ambil random dari pinterest.

Day 1: List 10 things that make me really happy.

Oh well, such a nice thing to start this 30 day blog challenge..
1. To see my kids grow, happy, and healthy.
2. Justin Timberlake. Just because, he is, Justin Timberlake. haha
3. Nice cold weather, not rainy but you know just cold. Udara pegunungan are my favorite.
4. The smell of coffee.
5. The smell of my kids after they played in the sun.
6. Internet. Fast internet connection. Because who can live without it, yes?
7. Pinterest make me happy.
8. Being able to sell good products on my baby shop.
9. Nice conversation with people. Stranger or best friends or my sister, doesn’t matter.
10. Watching my kids doing what they love. Even sometimes it’s messy and I’m the one who have to clean it up.. hahahaa..

So yup, that’s it. Beberapa point memang lame sih, tapi sebenernya gua gampang dibuat happy. Hahahahah..

Being happy itu sebenarnya adalah tanggung jawab diri sendiri. Jadi harus bisa happy dari dalam diri sendiri. Gitu katanya.. awalnya memang susah sih, apalagi pas masih lebay dan drama queen dulu jaman SMA. Hahahaha.. tapi sejalan dengan umur (tua!) maka harusnya sih gua lebih bisa milih mana yang harus dimasukin ke hati, mana yang ga. Mana yang bikin gua happy, mana yang ga perlu gua ambil pusing karena bikin gua sedih/kesel sendiri. Kalau ada masalah, ga usah lebay, ga usah drama. Selesein secara baik2. Semua ada jalannya. Jadi ga usah dibawa sedih berlarut2.

Apalagi sekarang udah beranak 2. Jadi gua harus lebih bisa atur emosi. Bukan berarti hrs selalu keliatan happy di depan mereka sih, tapi sesimpel kasih “pegangan emosi”. Jangan ngeribetin anak2 ama urusan yang ga seharusnya mereka pikirin. Biar emosi mereka juga bisa stabil. Kalau liat orang tua nya ga happy, kan kasian anak2 jd ikut sedih. Suram.

Hidup ini bisa terasa singkat, tapi bisa juga terasa lambat. Kejadian demi kejadian. Masalah demi masalah. Kebahagiaan demi kebahagiaan. Kesedihan demi kesedihan. Hari demi hari. Pada akhirnya, gua menyimpulkan bahwa yang bikin happy itu adalah adanya harapan. Bahwa hidup ini penuh sama harapan.

Gua bukan orang yang selalu happy sih.. mantap bener kalau happy terus mah. Tapi gua berusaha untuk ga ngeribetin orang lain ama masalah gua. Kalau mood turun, ya cari mood booster. Mood boosternya apa, ya yg tau diri sendiri. Jangan terus uring2an ga jelas minta dibikin happy. Begitu. Jangan banyak ngeluh.

Etapi gua sering ngomel sih kalau ada hal2 yang bikin gua kesel atau bt. Wkwkwkkw… tapi ya udah sebatas ngomel aja.

Postingan ini gua akhiri dengan quotes aja ya. Dari Rupi Kaur, poetess favorit yang kata2nya bisa bikin hati ini meraung-raung minta dipeluk.. hahahahha

“you must want to spend the rest of your life with yourself first” ~~ Rupi Kaur

 

Teenage Love

Barusan liat-liat fesbuk..Ga sengaja sekilas liat sang mantan. Hahaha..

Mantan terindah.

Lalu gua berpikir, apa yang dulu bikin gua kesengsem berat ama dia. Padahal kalau dilihat kelakuannya itu ya kayak gitu. Merokok, minum (sesekali sih, bukan yang addict), gamers, bikers, suka nongkrong ga jelas. Pokoknya bad boys abis. Tapi somehow, dulu gua naksir berat. Dan sampe sekarangpun, kalau lihat fotonya, ini jantung masih suka skip a beat. Wkwkwkw..

Dulu, guapun ditanya sih sama temen2 gua. Kenapa bisa suka sama cowok kayak gitu. Bandel, susah dibilangin. Dulu, jawaban gua adalah, “karena bad boys itu ya udah keliatan kelakuannya memang begitu. Ga sok manis tapi di belakang ngapain. Udah pait2an lah kalau sama bad boys. Beda kalau ngadepin ‘cowok baik2’.. cenderung skeptis duluan”.

Di umur gua sekarang yang udah tante-tante beranak 2, kalau ingat cara pikir gua dulu itu kadang gua merasa ampun. Mungkin cara pikir anak2 seumur itu memang begitu, belum bisa menalar lebih baik. Tapi entah ya, apakah karena gua dulu kan kurang arahan juga sik. Jadi ini insting bisa dibilang bener2 based on my own judgement.

Ga ada tuh ibarat orang tua yang ngasih gambaran tipe2 cowok mana yang husband material atau yang sekedar fun aja.

Nah, balik lagi di umur gua sekarang, kalau gua kembali ke masa gua remaja dan ngasih petuah sama diri gua di umur segitu, mungkin gua akan bilang bahwa, “take it easy aja. Janganlah takut buat gagal urusan cinta-cintaan ini. Cowok ataupun pacaran itu bukan segalanya, bukan tujuan hidup. Jangan mengorbankan kebahagiaan diri sendiri demi benerin kelakuan orang lain. Kamu itu, bukan ibunya. Bukan jatahnya utk ngebenerin didikan anak orang. Kamu itu, pendampingnya. He might be sweet and treat you like an angel. But if he doesnt know what to do with his life, then he’s just not worth it. Kalau dia belum punya gambaran tentang sebuah keluarga, ya jgn terlalu diseriusin hubungannya”.

Listen to your heart itu memang nasihat paling umum sih, tapi mana ada sih orang lagi kesengsem bisa netral menilai?

 

Iya, curhat lagi

Mau cerita ah..

Jadi gini.

Gua barusan paham kalau seorang anak sudah pasti butuh pengakuan dari orangtuanya. Pengakuan disini maksudnya tuh semacam ‘approval’ atau kayak semacam perasaan bangga orangtua terhadap anaknya.

Gua ingat waktu gua kuliah, gua naksir seorang cowok. Trus cowok itu bilang kalau dia suka sama cewek yang rambutnya panjang. Jadi gua pun memelihara rambut gua sampai panjang. Hahaha.. Kayaknya tiap gua naksir cowok (ga cuman pas kuliah itu), tiap kali gua dapat info cowok itu suka tipe cewek yang kayak gimana, gua akan berusaha banget untuk menjadi seperti tipe tersebut. Menurut gua, disinilah letak kemungkinan besar seseorang salah memilih pasangan hidup. Wkakakkakk..

Kenapa seorang anak membutuhkan ‘pengakuan’ dari orangtua nya? Kenapa sebutuh itu perasaan bahwa ‘orangtua gua bangga sama gua’ itu penting?

Jawabannya (menurut gua) adalah: Biar si anak ga perlu segitunya cari pengakuan dari orang lain. Jadi si anak merasa, “gua ga perlu segitunya ngikutin apa yg disuka sama org yg gua taksir”

Hubungan anak dan orangtua itu memang penting dijaga, biar si anak ga salah langkah. Bukan hanya for the sake of ya sudah seharusnya begitu, atau malah yg lebih parah adalah alasan ya biar orangtua tar ada yg ngurusin kalau udah tua.

Menurut gua sih, sebetulnya demi si anak ga salah pilih jalan hidup.

Kalau dibilang masa remaja adalah masa labil, ya memang bener sih. Karena itu masa seorang anak mencari panutan, cari sosok yang diidolakan. Bukan terus mengidolakan orangtua sih (because, come on.. please lah). Tapi biar si anak ga salah memilih panutan aja. Kedepannya kan dia akan punya kehidupan sendiri. Menikah (atau tidak), kerja di bidang apa, atau ngikutin passionnya. Milih mau hidup bagaimana. Itu kan akarnya pas masa labil itu.

Nah.

Masalah merencanakan masa depan. Ini penting banget orangtua mampu untuk membimbing anaknya untuk merencanakan masa depan yg akan dijalani si anak. Harusnya orangtua mampu untuk membimbing anaknya biar si anak bisa bayangin masa depan itu kayak apa, mau nya gimana.

Contoh deh, kuliah.

Berapa banyak yg merasa salah ambil jurusan? Berapa banyak yg pas mau kuliah ya dipaksa ambil bidang yg beda dgn yg dia inginkan? Yang clueless trus akhirnya asal ambil atau ya terserah ortu aja. Parah sih ini. Harusnya orangtua punya cukup pengetahuan untuk bimbing anaknya MEMILIH jurusan kuliah. ANAKNYA lho yg MILIH. Dan ortu harusnya bisa netral kasih arahan. Ortu harusnya pengetahuannya luas biar bisa kasih masukan yang berguna buat anaknya. Kalau ortu clueless ya cari tau lah. Cari tau bareng2 ama anaknya juga gapapa..

Kuliah memang biasanya ga nyambung sih ama pas kerja. Dan berapa banyak orang yg merasa ilmu pas kulian bener2 dipake ketika kerja? Menurut gua, kuliah itu buat cari social circle. Buat cari temen. Cari lingkungan yang sesuai ama passion. Bertemanlah sama sebanyak2nya orang. Beda jurusan, beda tingkatan. Itu semua berguna banget.

Tapi kadang orangtua mikirnya kuliah itu untuk belajar. Well, iya sih. Tapi ya paling 30% belajar. Ga akan lah itu ilmu 100% terpakai. Pas kerja, biasanya perkembangan udah beda dgn yg dipelajari di kuliah. Harus banyak adaptasi ilmu.

Contoh lain, menikah.

Berapa banyak coba orangtua yang mikir anaknya menikah itu, bukan DIA yang nikah. Tapi ANAKNYA. Jadi ga usahlah itu terlalu ikut campur. Maksudnya disini pas milih pasangan hidup dan proses menuju nikahnya ya. Pas udah nikah juga sih.. Tapi biasanya pas mau nikah, yg lebih ribet itu orangtuanye.

Kalau orangtua udah yakin sama ilmu2 yang dia tanamkan sama anaknya, harusnya sih udah ga perlu khawatir anaknya akan salah pilih pasangan hidup. Lagian, yang mau jalanin kan anaknya. Nah, makanya pas anaknya lagi masa labil, jangan dicuekin. Jangan dipikir, “ah biasalah namanya juga ABG”.

Jadi sebenernya, inti dari cerita gua adalah, Jadi orangtua itu ga gampang. Tapi ya ga susah juga. Cukup lah itu anggap anak2 sebagai MANUSIA. Bukan cuman status anak. Anak itu STATUS lho. Bukan terus artinya dia ga perlu dihormatin dan ga punya harga diri. Respect itu bukan hanya ke orang yang lebih tua. Harusnya, respect itu berlaku ke SEMUA MANUSIA. Apapun profesinya, apapun ekonominya, apapun gendernya, berapapun umurnya.

Kedua, jadi orangtua itu harus punya pengetahuan yang luas dan updated. Harus tau kalau saat ini, perkembangannya kayak apa. Biar bisa jagain anaknya. Biar bisa kasih ‘warning’ sama anak.. kalau sekarang lg banyak bahaya ini itu. Trus cara ngatasin/menghadapinya gimana. Pokoknya harus updated. Harus luas dan open minded (SUPER PENTING ini open minded). Kalau orangtua ga paham, ya cari tau. Jangan SOK TAU.

That is all.
*ngos ngosan*

Postingan penuh emosi ini sebenernya buat reminder juga buat gua dikemudian hari. Hahaha..

Apa kabar, kamu?

Di-apa kabar kamu-in sama seseorang itu ga pernah ga bikin perasaan ini sedikit membuncah hepi ya. Bukan gua keGRan atau gimana, tapi ditanyain kabar itu seperti yang simple tapi ya efeknya lumayan ga simple. Hahaha..

Jadi gini, seorang perempuan, perempuan manapun dan dimanapun, meskipun ngakunya ga romantis dan ga suka terlalu diperhatiin, selalu suka sama yang namanya PERHATIAN. Apalagi datang dari seorang cowok. Apalagi kalau cowok itu seseorang yang berarti. Gitu.

Jatuh cinta, sayang sama seseorang, pacaran, pernikahan, apapun hubungannya, semua itu adalah kata kerja. Ga bisa didiemin trus berharap bakalan awet. Harus diperlihara kalau mau awet. Ga perlu lebay sih. Tapi ga pernah nyakitin kok kalau sesekali dikirimin bunga atau kado kecil.. hahahhaa kode super keras.

Ya gitulah. Gua mau mojok dulu sambil elus-elus ini jantung ya.

Learn to Fly and Fly Away

Belakangan ini memang gua lagi banyak pikiran dan butuh tempat curhat. Hahaha.. maapkeun ya, kalau topiknya masih itu-itu aja.

Kali ini gua mau curhat masalah ya apalagi kalau bukan anak. Gua amat sangat bersyukur dikasih berkat dua orang anak yang sehat dan pintar. Mereka itu kayak pelepas dahaga gua banget deh. Bener-bener the best thing (if not the only thing) that ever happen in my life. And the thoughts that they’re mine (well, anak hanya titipan. I know), bikin gua merasa kalau gua harus jadi orang baik agar anak-anak punya panutan yang baik juga.

Belajar dari pengalaman gua sebagai seorang anak (haha!), gua merasa gua sedikit (well, banyak sih sebenernya) — gua merasa sedikit liberal dalam mendidik dan membesarkan anak-anak gua itu. Gua hanya ingin mereka tumbuh sebagai pribadi yang karakternya kuat. Yang ga takut untuk hidup dan terbang sejauh mungkin. I don’t mind if one day, they told me they want to go somewhere far from me. As long as they’re living their dreams, I dont mind.

Beda sih memang dengan cara gua dibesarkan. Gua merasa banyak di”takut-takutin” ketika gua mengutarakan “mimpi” atau cita-cita gua. Kayak diomongin, “lha ngapain sih mau ini/mau itu”. Well, i think kids are human too. They have rights. Their life is not ours. Kita orangtuanya hanya bertugas untuk mengarahkan dan membekali mereka dengan sebanyak-banyaknya ilmu cara bertahan hidup agar mereka bisa survive. Hidup ini berat lho, hidup ini juga ga bisa diulang. So you have to do it right.

Menurut gua, banyak orangtua terutama yang jalan pikirannya masih konservatif, yang melihat “anak” itu sebagai aset atau property mereka. Sehingga mereka merasa punya hak untuk nentuin mana jalan hidup yang harus dilalui oleh anaknya. Well, i dont want to be one of those parents.

Anak itu investasi, katanya. Well, investasi yang seperti apa. Kalau menggantungkan harapan ke anak bahwa ketika kita tua nanti akan ada yang menemani, hm.. ya menurut gua sih, siap2 aja kecewa. Anak-anak itu terlalu berharga hidupnya untuk dibebani tugas nemenin orangtuanya yang udah renta. Gua sih hanya berharap, ketika gua udah renta, mereka masih merasa connected ama gua. Bedain lho ya.. connected ama ngurusin orang tua.

Jadi, ketika nanti mereka terbang tinggi, mereka ga pernah lupa arah menuju ibunya. Mereka tentu saja akan punya kehidupan sendiri. Meskipun gua adalah ibunya, gua ga punya hak apa-apa lho ngatur-ngatur hidup mereka (ini konteksnya kalau mereka udah dewasa ya. Please deh)

Orang tua itu tugasnya hanya sayang sama mereka. Bentuk sayangnya ya beda-beda sih tiap orang. Tapi yang jelas, bagi gua membelenggu mereka dengan kewajiban “nemenin” gua dikala tua sih kayaknya keterlaluan banget deh.

Orang tua juga kayaknya banyak kemakan ego nya sendiri. Arogan. Sok punya kuasa hanya karena elu lahir lebih dulu drpd anak elu. Gitu kan? Yeah, well.. kalau elu merasa anak elu kok gitu amat ama elu. Ya, coba deh bercermin. Kemarin dulu waktu anak-anak masih butuh perhatian dan arahan, elu kemana? Itu aja sih, yang gua pegang.

Jadi, apakah anak elu senang hari ini? Apakah mereka sudah tertawa bersama elu? Apakah mereka merasa nyaman? merasa aman? Did you learn something new about them?

%d blogger menyukai ini: