Kids and Me

Dulu, gua ingat bahwa gua ga suka anak kecil. Kalau kemana-mana, tiap dekat anak kecil, gua selalu meringis dan berusaha untuk ga dekat-dekat. For me, kids will always seems like a lot of work. Too much hassle and all.

But then, i got married. And of course, the never ending questions about having kids will always there. At that time, the idea about marriage without kids was never on my mind. Though the idea of having kids also never really set in. I guess i’m like, do what i expected to do.

So, now i am having two kids. Which i adore. And never want to replace them with anything. It’s just, kids are kids. They behave like kids. They do kids stuff. And I try my best to keep myself together and deal with it.

Days ago, i read this person talks about his decision for having childfree on his marriage. His and his wife decided on having no kids. Many people ‘attacks’ him and told him that it’s a very wrong decision. But there also people who supports the decision. I’m in no position to judge but i may say that it is a very brave thing to do. I wish i have that much guts to do that.

Punya anak itu, harusnya, memang hasil dari pemikiran matang yang panjang dan bener-bener keluar dari keinginan. Bukan cuman karena ‘ya udah seharusnya’. Karena punya anak itu berat. Secara finansial udah pasti. Secara mental, ini yang kadang ga kebayang kalau belum menjalani. Punya anak itu dituntut komitmen  yang lebih dari menikah. Kalau menikah lu ga cocok pun ujungnya bisa cerai. Kalau punya anak, lu ga cocok ama anak lu, ya itu tetap anak elu. (dan kesalahan ada di orangtua sih, kl ga cocok ama anak elu, ya salah elu).

Pengorbanan untuk anak itu, menurut gua memang udah kewajiban. Tapi ya namanya manusia, tetap lah manusia. Tetap ada rasa cape karena terus menerus dikuras energi nya. Energi fisik, energi mental. Yang namanya kasih sayang sepanjang masa itu memang ada, tapi ya ga gitu juga sih.

Anak itu, memang kewajiban orangtua untuk urus dan didik sebaik-baiknya kita bisa. Jadi kalau untuk gua, ga ada istilah anak hutang budi sama orangtua. Sampai kapanpun, gua ga ingin menganut mind set bahwa anak harus balas budi. No. Anak itu tidak hutang apa-apa. Gua yang hutang sama mereka. Anak itu ada disini, karena gua – orangtuanya – yang ingin dia ada disini. Jadi ya, udah seharusnya sih gua ga minta balas budi.

Kalau ada istilah anak durhaka, anak ga tau balas budi, bla bla bla.. well, i refuse to have that kind of mind set. Ga ada anak durhaka, yang ada itu orangtua yang ga mengenal anaknya. Ga ada anak ga tau balas budi, karena memang ga perlu. Memang ga seharusnya. Anak ga tau terima kasih? Ya salah orangtua ga ngajarin yang namanya empati dan rasa syukur. Anak kurang ajar? Ya udah jelas kurang diajarin sama orangtuanya.

Label anak durhaka, anak ga tau balas budi, anak kurang ajar, anak ga tau terima kasih, itu ya umumnya diberikan ke anak2 yang sudah bisa mikir, kan. Bukan anak balita tau2 dibilang anak kurang ajar. Anak itu ga tau-tau besar, ga tau2 punya pemikiran jahat dan ‘kasar’ kayak gitu. Pengaruh lingkungan ? ya tanggung jawab orang tua sih itu. Kalau dibilang salah gaul, gua masih percaya kalau anak2 dibekalin ajaran yang bagus sama orangtuanya, lingkungan/teman2 seburuk apa juga ga akan kebawa kok. Pengaruh negatif itu akan selalu ada. Ga bisa dicegah. Yang bisa dilakuin itu, kasih anak2 ‘senjata’ akal budi yang bagus.

Anak-anak itu, ya anak-anak. Keperluannya banyak. Butuh perhatian, butuh waktu, butuh hati. Ibaratnya, 90% semua diri kita ya untuk mereka. Sampai mereka mandiri. Dan itu, sangat menguras energi. Seperti ada yang merampas semua ‘hak’ elu menjadi manusia. Pokoknya, lu ga bisa protes karena ya itu anak elu.

Meskipun iya memang, tetap ga boleh kehilangan diri sendiri. Harus tetap kuat dan mikirin diri sendiri juga. Cuman ya porsinya ga sebanyak waktu belum punya anak.

Gua tau, akan ada waktu dimana gua kangen masa-masa mereka masih tergantung sama gua. Akan ada waktu dimana semua ‘hak’ gua sebagai manusia itu akan kembali gua dapatkan. Nanti, kalau mereka udah bisa mandiri, gua akan punya banyak waktu dan energi untuk diri gua sendiri.

Makin waktu berjalan, gua menyadari bahwa gua banyak belajar tentang diri gua sendiri dari menghadapi mereka. Ternyata gua ga sesabar yang gua kira. Ternyata gua ga se-prepare yang gua pikir. Ternyata gua ga cukup besar hatinya untuk ga marah-marah. Ternyata ini ternyata itu. Ternyata banyak hal yang masih harus gua pelajari. Semua trial dan error. Banyak errornya tapi sejalan waktu, harusnya sih selalu lebih baik ya.

Satu hal yang gua pegang, untuk gua ingat-ingat selalu. Gua harus ingat semua perjuangan gua ini. Bukan untuk gua tagih balas budi. Tapi justru untuk gua balas budi di saat mereka nanti dewasa, gua harus bisa memahami posisi mereka nanti ketika mereka kelak menjadi orangtua. Kelak mereka memutuskan untuk menikah/tidak, untuk punya anak/tidak, untuk menjalani kehidupan mereka yang seperti apa. Gua harus ingat bahwa apapun keputusan mereka kelak, gua ga boleh ikut campur. Yang harus gua lakuin adalah mensupport apapun itu. Harus yakin bahwa bekal yang gua kasih ke mereka sudah cukup untuk mereka pakai. Ga boleh sumbu pendek. Ga boleh panik. Kalaupun gua ga setuju dengan mereka, yang gua bisa lakuin adalah mencoba memahami. Bukan menentang. Karena sebagai orangtua, posisi kita adalah di samping. Bukan di seberang. Itu yang harus gua ingat. Seaneh-anehnya mereka jalanin kehidupan mereka, itu hidup mereka. Itu anak gua. Gua orangtua nya. Jadi nanti kalau berantakan, gua dan anak gua tetap ada di 1 tempat, bukan berseberangan.

Ego sebagai manusia, biasanya bikin gelap mata. Bikin sumbu pendek. Bikin emosi. Gua ga boleh seperti itu. Ingatlah semua beban kehidupan yang harus dijalani. Janganlah nambah-nambahin beban dengan ada di seberang dari anak elu.

Semoga gua ingat ya. Hahahaha..

Oiya, yang harus gua ingat adalah jadi orangtua itu cape. Secara fisik bisa istirahat juga segar lagi. Tapi secara jiwa, secara emosi, secara hati dan mental, obatnya cuman 1. Liburan. Get away for awhile. Leave everything behind and do your thing. Jadi ketika lu balik, keadaan emosi lu udah kembali netral lagi.

Bermusuhan sama anak itu ga pernah ada enaknya. Ga pernah bikin masalah jadi beres. Yang ada malah bikin tambah berat. Bermusuhan cuman mau buktiin siapa yang benar, ego siapa yang lebih tinggi. Siapa yang lebih kuat. Bullshit lah itu semua. Ga akan ada ujungnya.

Jadi orangtua itu ya tugasnya bikin adem,  bukan bikin rumit. Jadi kalau anak menentang, tugasnya orangtua itu ya memahami (bukan asal memahami ya, tapi coba lah untuk mengerti apa yg jadi pertimbangan si anak). Bukan malah bikin makin bersebrangan. Jadi jangan nyalahin anak kalau terus hubungan antara anak dan orangtua ga harmonis. Anak itu ga tau2 besar, ga tau2 dewasa. Kalau ga ‘dirawat’ hubungannya, ya ga heran kalau ketika anak nya udah besar, udah saatnya mandiri, ego nya bentrok.

Makanya, gua bilang tadi, punya anak itu harus dari keputusan sadar dan keinginan sendiri. Bukan karena ‘ya udah seharusnya’. Karena jadi orangtua itu berat.

Itu aja sih.

Iklan

About metalia

not much. Just a simple girl, like simple things, trying to be brave of life, and embrace life even it's scary as hell.

Posted on Februari 19, 2017, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: